EBOOK NOVEL TOTTO-CHAN

adminComment(0)

Totto-Chan - The Little Girl at the Window ebook by Tetsuko Kuroyanagi. Preview to Totto-Chan. The God of Small Things - A Novel ebook by Arundhati Roy. Read "Totto-Chan The Little Girl at the Window" by Tetsuko Kuroyanagi with Rakuten Kobo. The God of Small Things - A Novel ebook by Arundhati Roy. eBook:: :: Tottochan in English, Hindi, Malayalam, Marathi, Tamil BY . eBook:: દરેક સવારે નવો જન્મ, દરેક રાત્રે નવું મૃત્યુ».


Ebook Novel Totto-chan

Author:GENNY ZESCHKE
Language:English, German, Dutch
Country:Papua New Guinea
Genre:Lifestyle
Pages:151
Published (Last):22.01.2016
ISBN:608-6-71978-290-7
ePub File Size:19.50 MB
PDF File Size:10.52 MB
Distribution:Free* [*Registration needed]
Downloads:42998
Uploaded by: PENELOPE

Totto-chan stepped to one side and took a good look at the ticket collector. . desk top, Totto-chan would leave her desk and stand by the window, looking out. Download Totto-chan: The Little Girl at the Window PDF eBook. Hunting Bears: Morrissey as a Penguin Novel & Other Re-Imagined Rock Posters. Illustration. Editorial Reviews. Review. "[Totto-chan] is a quiet indictment of sterile education." —New York . “Totto-chan” is a memoir in the guise of a novel. The author's.

For a page book, It took me a while to finish it because it didn't really motivate me to keep going. But that doesn't mean it's a bad book. It's hard to believe that such a surreal school as Tomoe could actually exist and the way it's described makes me really want to visit it if only it still stood today. The Totto-chan: The Postscript in the end was so nice to read and so wonderful to know that all of Totto-chan's and Totto-chan herself are doing really well to this day.

It was mentioned in the Postscript that it was proposed to her for the book to be an animated movie, but she turned it down to retain the imagination of everyone who has read it.

download for others

While that's a nice thought, it would have been really great if this book became an animated movie as it could have been really adorable. Did I mention it's really adorable? Bukunya bagus, tapi bukan favorit saya. Memberikan banyak pencerahan tentang dunia anak dan pendidikan.

Hanya saja saya tidak bisa benar-benar menikmati.

FÃŒr andere kaufen

Cuma soal selera saja saya rasa. Kisah nyata dari penulis yang hadir dalam sosok Toto-chan, bocah kecil yang "nakal" dan dikeluarkan.

Hingga kemudian ia menemukan sekolah Tomoe yang mengerti bagaimana mengembangkan potensi setiap siswa, termasuk Toto-chan. Metode pendidikan yang unik membuat sekolah itu begitu berkesan. Sekali lagi, buku ini tida Bukunya bagus, tapi bukan favorit saya. Sekali lagi, buku ini tidak jelek, hanya bukan favorit saya saja. Mungkin karena saya tidak terlalu dekat dengan dunia pendidikan.

Picked up the book on a friend's recommendation. Stopped reading midway. Very kiddish, perhaps children will like it I'm doubtful though , written in a very repetitive manner. Only about praise for the headmaster and Totto-chan's amazement at finding how he does everything at her new school Tomoe in a different manner than a mainstream school.

Each chapter is then about this. May 03, Ayu Saraswati rated it it was ok. View all 7 comments. Don't get all the glowing reviews. Maybe something was lost in translation for me. Lucu, ngegemesin Yuktha rated it it was ok Jan 31, Grace O'Malley rated it it was ok Sep 03, Elclareano rated it it was ok Oct 12, Nakiame Folie rated it it was ok Feb 06, Doun YA rated it it was ok Mar 07, Johnn Alkuino rated it it was ok Jul 27, Bhavisha rated it it was ok Nov 25, Cliff Shanganya rated it it was ok Jul 04, Kurnia Sari rated it it was ok Jun 26, Orin rated it it was ok Feb 23, Andrella Hutabarat rated it it was ok Jan 22, Perjalanan dimulai dari Tanzania terus ke beberapa negara afrika lainnya Pheww Perjalanan dimulai dari Tanzania terus ke beberapa negara afrika lainnya Uganda, Rwanda, Somalia, Ethiopia, Mozambik, dll.

Buku ini mendeskripsikan apa yang dilihat dan dialami oleh sang penulis dan bahsanya membawa kita dapat membayangkan keadaan-keadaan yang menyedihkan di negara-negara tersebut.

Gambaran-gambaran kehidupan dimana jangankan makanan, bahkan air merupakan barang mewah. Kehidupan dimana anak-anak tak sanggup menangis sangking menderitanya. Kehidupan dimana kebebasan dan kedamaian merupan impian.

Deskripsi tersbut lengkap dengan gambar-gambar perjalanan.

You might also like: ARC REACTOR THEORY EBOOK

Kuakui mengerikan melihat foto-foto tersebut dan membaca tulisan ini. Jadi mikir kalau buang-buang makanan dan membeli barang-barnag yang tidak terlalu dibutuhkan.

May 24, Lisa rated it really liked it. Ini bukan jenis buku yg bisa dibaca sambil lalu di kereta Kan ndak seru kalo di kereta tahu2 kita ketahuan mengeluarkan air mata gitu deh Air mata keluar dengan sendirinya bukan karena ini cerita sedih Kalimat-kalimatnya sangat apa adanya, enak dibaca, namun sangat menyentuh. Dua jempol deh buat Ms.

Membuat kita menyadari betapa beruntungnya kita hidup di Indonesia ini..

Benar juga kata Ms. Tetsuko bahwa binatang dalam kebun binatang hanya bisa kita lihat dalam kondisi negara yang aman dan sejahtera Kalo pake istilah Ipin Auh ah Jun 13, Juniar rated it it was amazing Shelves: Heartbreaking facts told by a person full of hopes. The book tells about children of the world who are struggling or die trying; helpless children who cry silently. Every story brings tears to my eyes, pain in my chest.

Amazingly, this is written in high spirit and unwavering faith. Perhaps a lesson I learned from this book is: Jan 11, Francisca Todi rated it it was amazing Shelves: Buku ini benar-benar membuka mata saya terhadap kekejaman perang dan betapa banyaknya penderitaan di muka bumi. Sementara kita mengeluh soal hal-hal sepele, membuang-buang makanan dan air, orang-orang di belahan dunia lain kelaparan dan kekeringan, menderita trauma dan luka yang mendalam.

Jun 04, Aisyah Hasyim rated it liked it. Read this and you will know how lucky you are. Be grateful to Allah for your life. However, it's a gift. Well, it would be good for us if we could read this kind of book with a more updates event in the recently years.

Feb 16, Puput Hardianto rated it it was amazing. Sebuah buku yang bagus untuk membuka pikiran yang selalu mengeluh dan jarang bersyukur. Buku yang bercerita bahwa air penuh lumpur akan disyukuri di tanah yang tandus. Buku yang bercerita bahwa bisa tertawa saja bahkan bisa menjadi suatu nikmat yang besar di sebuah tempat penuh konflik. Mar 31, Nilam Suri rated it really liked it Shelves: Pedih, perih, disaat bersamaan juga terasa manis.

View all 18 comments.

Feb 23, Annie rated it liked it Shelves: Mar 03, Lelyana rated it it was amazing Shelves: Toto Chan was so cute. I think she's having an old soul inside. She funny and wise at the same time. Enjoyable read. This one is one of my all time favorite. Feb 15, Arief Bakhtiar D. Dan di Tanzania sebuah negeri yang rakyatnya sehari-hari memakai bahasa Swahili tahun , perempuan Jepang itu seperti mendengar namanya terus-menerus dipanggil. Pengarang Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela , di masa kecilnya, sering mendengar kata serupa.

Dua puluh anak dan bayi tak punya cukup tenaga untuk menangis dengan suara, juga untuk menggerakkan tangan mengusir lalat yang merangkak dan memenuhi muka mereka.

Mereka menangis: Yang mereka lakukan hanya memegang-megang baju Kuroyanagi. Adakah masa depan bagi mereka? Atau pada akhirnya akan mati dalam diam?

Saya tak tahu.

Kuroyanagi tak tahu. Yang dia tahu: Di Tanzania Kuroyanagi percaya kalau alam bisa kejam. Dalam buku Anak-Anak Totto-chan itu—judul versi Jepang Totto-chan to totto-chan tachi , yang berarti Totto-chan dan para watoto bentuk jamak dari mtoto —kita diberi kisah daerah bernama Dodoma. Di sana hujan tidak turun delapan bulan.

Tanaman jagung, tanah, sungai, tak perlu ditanya—semua kering. Tapi Kuroyanagi diberi kehormatan mencuci tangan. Yang membuat kegiatan remeh temeh cuci tangan itu menjadi besar adalah ini: Pemandu Kuroyanagi bilang jarak itu tidak terlalu jauh. Lainnya bisa kilometer. Yang meraih simpati terdalam Totto, yang mengambil air itu adalah sekelompok anak kecil. Mereka berjalan kaki, berkilo-kilo meter, dan sampai di tempat tertentu anak-anak kecil itu menggali lubang sedalam 30 senti dan lebar kira-kira 40 senti.

Mereka diamkan sebentar lubang itu, dan hola: Sekitar 10 menit, akan ada mudah-mudahan cukup air untuk dua mangkuk kecil. Tapi di permukaan air itu masih mengambang debu-debu. Dalam situasi sulit, anak paling kecil dalam pengembaraan didahulukan meminum airnya. Tidak heran, di Dodoma sekolah tidak lebih penting ketimbang mencari air. Logikanya sederhana: Tapi tidak hanya alam yang kejam terhadap anak-anak.

Perang turut andil menyebabkan kehidupan anak-anak semakin sulit. Dalam era di mana anak orang kaya menghabiskan berjuta-juta sekali main di mall, di belahan dunia lain anak-anak hanya mampu bermain di tanah lapang—untukmenjadi korban ranjau.

Mari kita perhatikan angka-angka: Tiap tahun hanya mampu diamankan sekitar Secara matematis, pembersihan semua ranjau membutuhkan tahun. Dalam tahun, bisakah kita memastikan tak ada anak-anak yang jadi korban?

Berdasarkan cerita Kuroyanagai, kita masih bisa membuat deret yang tak habis-habis mengenai kekejaman perang dan derita anak.

Di Angola, , anak-anak yang tak bisa berlari cepat dalam pelarian diikat di pohon.

Tangan atau kaki mereka dipotong dengan golok agar tak bisa membalas dendam atas kematian orang tua mereka. Itu masih belum ditambah betapa kejamnya sebuah kecerdasan: Di Leningrad, anak-anak sampai memakan plester dinding. Dalam situasi perang sering kali bayi-bayi digoncang, untuk tahu apakah mereka masih hidup atau mati.

Dokter-dokter hanya bisa melihat, tak bisa mengobati, tak bisa mengoperasi. Ada memang suatu kisah yang agak menyenangkan kita, tentang seorang anak yang amnesia—mungkin itu bentuk baik hati dari Tuhan daripada ia mengingat apa-apa yang menyeramkan. Selain perang apa? Jutaan anak-anak hidup di barak pengungsian. Mereka tumbuh di kota di mana gedung-gedungnya dipenuhi lubang peluru. Di perkampungan kumuh di Port-au-Prince, Haiti, Di kota Juba, Sudan, Di sebuah gereja di Nymata, mayat tanpa kepala bertumpukan.

Di lantainya, tengkorak-tengkorak berserakan. Mereka adalah korban-korban perang yang mati dipenggal dengan golok, senapan, atau granat tangan. Di tempat-tempat seperti itu jutaan anak-anak hidup, juga mungkin setelah perang berakhir.

Mereka mungkin akan sekolah seadanya sambil bekerja. Di Phnom Penh, dari 1 juta anak sekolah dasar, Mereka mungkin tak punya orang tua lagi, dan sibuk menyalahkan diri sendiri atas kematiannya. Dan memang itulah yang terjadi. May 18, Ipeh Alena rated it really liked it Shelves: Meski 'rasa' yang ditawarkan di dalam buku ini berbeda dari buku kisah Toto Chan ketika masih kecil. Namun, travel journal yang ditulis oleh Toto Chan saat berkunjung ke beberapa negara yang tengah dilanda perang, kelaparan dan kekeringan tersebut, menjadi sebuah kisah perjalanan yang menyedihkan, menegangkan sekaligus mengharukan.

Aug 11, Kurnia Dwi Aprilia rated it it was amazing Shelves: Kemiskinan memang terkadang sangat mengerikan. Terlebih jika kemiskinan yang disebabkan bukan karena kemalasan, tapi karena kekejaman perang, konflik, dan perebutan orang-orang dewasa yang pada akhirnya merenggut kebahagiaan anak-anak.

Anak-anak menjadi sangat miskin. Miskin ilmu, miskin materi hingga jutaan yang menderita gizi buruk, juga miskin cinta dan kasih sayang. Ditelantarkan secara sengaja oleh orang tua, atau menjadi gelandangan oleh takdir yang menggariskan ibu-bapaknya hilang atau m Kemiskinan memang terkadang sangat mengerikan. Ditelantarkan secara sengaja oleh orang tua, atau menjadi gelandangan oleh takdir yang menggariskan ibu-bapaknya hilang atau mati dalam perang.

Begitu gambaran yang sangat mengerikan saat orang-orang di negara miskin hidup di tanah-tanah gersang yang suhu udaranya bisa mencapai di atas 60 derajat C dikala siang hari, tanpa tempat berteduh, tanpa ada tumbuh pepohonan sedikitpun sepanjang mata memandang, bahkan tanpa air minum yang layak untuk bertahan hidup.

Sehingga, kematian senantiasa mengintai. Kekeringan dan konflik menjadi sangat mengerikan dan menyakitkan, terutama bagi anak-anak. Di Tanzania, Negeria, India, Mozambik, kekeringan menyebabkan anak-anak terpaksa harus mencari air untuk minum hingga puluhan kilometer. Anak-anak terpaksa meminum air dengan keadaan yang keruh dan berlumpur. Peristiwa ini tentu menjadi alasan besar akan banyaknya penyakit yang tersebar dan berkembang seperti Kolera, tetanus, diare, polio, kwashiorkor, dsb.

Kekeringan ini dikarenakan tidak adanya pepohonan yang dapat membuat siklus hujan. Sehingga berbulan panjang bahkan berbilangan tahun, di tanah tersebut tidak turun hujan sedikit pun. Anak-anak usia belasan tahun harus kehilangan tangan dan kaki karena terkena ranjau darat, bahkan kehilangan penglihatan di usia yang begitu mudanya.

Di Bosnia, pelajaran yang pertama diterima anak-anak di dalam kelas adalah mengenai ciri-ciri ranjau darat. Di sana orang-orang kejam sengaja membuat ranjau-ranjau darat yang bentuknya mirik es krim, batangan coklat, dan benda-benda yang dekat dengan anak-anak. Bahkan, di dalam boneka-boneka yang disayang anak-anak juga dimasukkan bom yang kemudian akan menjadi pembunuh sang anak. Peristiwa di Rwanda begitu mengejutkanku.

Saat membaca bahwa ribuan kepala orang berserakan di gereja, di jalanan, karena hampir setiap orang saling membunuh. Tetangga, teman dekat, bahkan saudara yang berbeda suku membunuh orang-orang terdekatnya, yang rasanya tidak pernah terbayangkan betapa mengerikannya.

Betapa kejam manusia-manusia yang saling membunuh itu. Kurasa mereka tak lagi punya hati. Di Haiti, anak-anak perempuan usia 12 tahun pun berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan cara yang sangat keji, yaitu dengan menjual dirinya. Sensus di sana menyatakan bahwan 1 dari 6 orang penduduk mengidap penyakit AIDS, bahkan tidak sedikit bayi-bayi yang baru dilahirkan membawa penyakit AIDS di dalam tubuhnya, sungguh sangat kasihan.

Anak-anak gelandangan jumlahnya sangat banyak. Bergelimpangan di jalanan ketika malam hari, tanpa rumah, tanpa orangtua, tanpa kasih sayang. Tidak sedikit ditemukan anak-anak yang meninggal di jalanan karena kelaparan, dilahirkan untuk disia-siakan. Bahkan, ketika meninggal pun dalam keadaan sendiri, tanpa pelukan orang yang disayang. Tapi mereka selalu berusaka untuk bertahan. Mereka kuat. Tidak ada kasus bunuh diri, tidak. Alhamdulillah, dengan membaca buku ini saya bisa mengunjungi banyak negara di dunia ini.

Mengetahui lebih dalam hal-hal yang terjadi di negara-negara tersebut. Membaca buku ini membuat saya merasa sangaaaaaat bersyukur dapat hidup dalam keadaan yang sangat baik, tidak kekurangan suatu apapun. Hidup di negara yang penuh dengan kedamaian, bisa belajar dengan mudah hingga jenjang yang tinggi, tinggal di tempat yang terdapat air yang melimpah ruah, dan memiliki keluarga yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang.

Namun banyak hal yang menjadi pertanyaan di benakku tentang keadaan sulitnya air, dan peperangan. Hal-hal yang diceritakan di dalam buku ini semakin menjelaskan kepadaku bagaimana sesungguhnya keadaan saudara-saudara muslim di semua belahan bumi yang di tanahnya masih terjadi peperangan.

God's beloved daughter

Aku tak mengerti, mengapa harus ada orang-orang yang sangat kejam di dunia ini. Buta mata hati, karena dikuasai emosi dan ambisi. Tak peduli berapa banyak yang mati, tak peduli seberapa banyak luka yang ditimbulkan di hati. Dec 06, Afrizal rated it really liked it. Dalam kunjungannya tersebut, penulis menyoroti berbagai keadaan anak-anak yang hidup dikelilingi masalah kesehatan, kelaparan, dan ketakutan.

Sep 08, Peni Astiti rated it it was amazing Shelves: Sebetulnya, baca buku ini bikin depresi. Karena di setiap babnya, memang menceritakan tentang penderitaan anak-anak di berbagai belahan bumi - yang selama ini saya cuma tahu dari tv atau buku.

Progres baca buku ini, saya terbilang sangat lambat. Maklum, makin ke sini, umur saya makin bertambah dan saya makin perasa. Kalo baca yang sadis sedikit, saya bakalan nangis dalam waktu yang lama. Buku ini menampol saya lumayan edan. Saya sering banget mengeluh. Misalnya, kalo huruf-huruf yan Sebetulnya, baca buku ini bikin depresi.

Misalnya, kalo huruf-huruf yang saya ketikkan di sini munculnya lama, karena si komputer entah karena apa, tiba-tiba kerja otaknya melemah, sehingga untuk menampilkan huruf-huruf yang saya ketik aja butuh waktu lamaaaa banget. Padahal, yah, komputer yang saya pakai ini bagus, sih. Cuma mungkin karena punya kantor, jadi emang cuma buat kerja kantor. Bukan buat review pribadi: P salahsendiri Banyak lah, saya mengeluh daripada bersyukurnya. Misalnya, saya bingung mau makan apa.

Saya suka mengeluh karena saya belum juga nyicipin Opera Cake. Saya mengeluh karena belum juga bisa makan Walls Magnum Gold, soalnya masih batuk. Saya ngeluh, soalnya masakan ibu kantor yang saya makan keasinan. Kadang nggak saya habisin. Pasti banyak yang gutak gitek di airnya. Tapi untuk bisa dapetin air kayak gitu, mereka kudu jalan jauh dan udah bersorak saking senengnya. Di Kamboja ama Vietnam, di Rwanda, di Mozambik dan di tempat lainnya, banyak perang saudara.

Saling curiga. Saling bunuh. Di kita, yang udah merdeka, udah hidup tentram dan damai, malah diisi sama tawuran. Ngapain sih, padahal?

But the lesson here seems to be that every choice in life brings with it risks and if bathing suit-less swim time is a useful means for helping the children especially the physically handicapped to appreciate and accept their differences and similarities such that they can have confidence about who they are and act with kindness towards everyone else, the risk of something monstrous or mean-spirited in such an environment might be a better risk to take than watching certain individuals grow up feeling alienated from themselves and others for lack of such experiences.

Indeed, those same paranoid parents would be wondering how a child could ever develop a moral sense without correction and punishment from adults. It is enjoyable, then, to witness the many moments when Totto-chan attempts to do something underhanded or less than honest with herself, her parents or her friends but recognizes the moral inconsistency of her actions on her own and eventually makes amends and moves on.

It makes you think that children are capable of so much more than they are given credit for, typically, and that maybe the moral failings of children reflect not their immaturity, but the perverse incentives of the adults who guide them. This is a humorous book, as well. And thankfully, there are moments of profound tragedy and despair. I say thankfully, because it is in these recollections that we are truly reminded of how precious life is and what a wonderful gift a school like Tomoe is.

One of those tragedies is that the Tomoe school burned to the ground near the finale of the Pacific War as Tokyo came under increased firebombing by the US Air Force. I think this book can be enjoyed by children, parents, families, teachers and social theorists and anyone concerned with building a more empathetic society built upon respect for the individual and the instinct of trusting oneself.

site Edition Verified download. Every time that I think I am finished with the topic of World War II depressing, done to death , another book of movie comes along. This is the story of a young girl in Japan who attends an alternative school until it is forced to close due to the war. This is a children's chapter book, therefore an easy read for an adult, yet quite touching.

Although it describes the war, it is appropriate for young readers. I would not have known about this book if someone in my book club had not chosen it. One thing I did not know until the end is that this book is based on the author's real experience. Teachers will like this book.

It brings up an interesting point about education. Totto-chan is unsuccessful in her first school and is expelled. She thrives at the alternative school; I would surmise that schools such as this one were and are very rare in Japan. Totto-chan most certainly would be diagnosed as ADHD if she were to enroll in an American school today, yet she is delightful. One person found this helpful. I downloadd this book at the suggestion of some reading list.

I found the story inspiring because in my former life I was a substitute teacher and that experience taught me that I have no business being around kids and two every kid learns differently and have passions about a subject that unfortunately the local public school I used to sub at doesn't allow freedom like that. It's a miracle if they even get decent books. But it opened my eyes and made me think about the state of education and how some kids just don't conform to standards.

Well I don't have much to add but please download this book. I am excited by Totto-Chan's sharing of her childhood. Her ability to recall and replay her childhood captures the way young children think and reason. Experiencing the world through Totto-Chan's eyes for a few chapters is spell binding.

Join Kobo & start eReading today

Parents and teachers get a powerful reminder of the importance of every communication they have with young children - that the automated responses are frequently as important as the thought out ones. I am now a grandparent. I find myself witnessing through new glasses the interactions of young children of my family as well as those of strangers. I find myself looking for the spirit and excitment and innocence of Totto-Chan in those encounters.

I have also wondered at times if the adults would relate to children differently if they had recently experienced the world through Totto-Chan's eyes. One of my daughter's and her seven year old enjoyed reading this together. My other daughter read Totto-Chan to her family of 7 as they drove on a long cross country trip. I now order copies of this book to share with my educator friends and parents of young children.

This book is the only book that I will recommend for anyone to read and re-read all over again. From time to time, perception towards something changes us. Whenever that happened and I will re-read it again, I find myself understand the child's mind even better.

It is astonishing to realize such unique child education structure exists in Japan back in World War II. It is an impressive system to allow the child to grow without constraining their development and over conditions them. This book allow you to walk through a journey from the eye of a child. The overview concept of education system and why each child is unique of their own.

Anyone should read this regardless if you're a new parent, an early childhood educator or someone who just enjoy having new perspective.

繧ュ繝」繝ウ繝壹・繝ウ縺翫h縺ウ霑ス蜉諠・ア

A simple yet brilliant story that is very quiet and humble about the revolutionary power contained within. If more schools adopted some of the teaching policies within this book, I suspect our education system would become much more natural and human.

Schools should adapt themselves to the needs of a child. Children should not have to adapt to the needs of the school. See all 92 reviews. site Giveaway allows you to run promotional giveaways in order to create buzz, reward your audience, and attract new followers and customers.What Makes Sammy Run? Read this and you will know how lucky you are. What a wonderful book! Setiap kali terjadi banjir, sepertiga negara ini terendam. Shopbop Designer Fashion Brands.

HORACIO from Santa Clarita
Please check my other posts. I have only one hobby: knotting. I relish exploring ePub and PDF books mysteriously.
>